Dolly yang dulu bukanlah yang sekarang
DOLLY YANG DULU BUKANLAH YANG SEKARANG
(BUAH
DARI SINERGI DAKWAH)
Sebagai laporan kuliah lapangan ilmu dakwah
Dolly, mendengar kata itu pasti langsung
tertuju kepada sebuah lokalisasi yang berada di Ibu kota Provinsi Jawa Timur
yang juga Kota terbesar kedua di Indonesia yaitu Surabaya. kota yang didalamnya terdapat banyak sekali
kegiatan manusia dan merupaka pusat pemerintahan daerah, politik, perdagangan,
industry, pemdidikan, dan kebudayaan. Daerah
metropolitan Surabaya yaitu Gerbangkertosusila yang berpenduduk sekitar 10 juta
jiwa, adalah kawasan metropolitan terbesar kedua di Indonesia setelah
Jabodetabek. Dengan mobilitas tang sangat tinggi, tak heran berbagai cara
dilakukan warganya untuk mendapatkan penghasilan termasu memperdagangkan
menusia
Dolly sudah melanglang buana namanya hingga
mancanegara. Bahkan gang ini juga disebut-sebut sebagai pusat lokalisasi
terbesar se Asia Tenggara. Bagaimana tidak area yang tidak cukup luas dapat
dihuni sekitar 1.449 PSK dan 313 mucikari. Lokalisasi Dolly tersebar di lima RW di wilayah Kelurahan
Putat Jaya, Kecamatan Sawahan, memang terbagi menjadi dua lokalisasi. Pertama,
lokalisasi Gang Dolly --sebenarnya Jalan Kupang Gunung Timur I– serta deretan
wisma yang terletak di sisi selatan Jalan Jarak. Kedua, lokalisasi Jarak yang
letaknya tepat di seberang jalan lokalisasi Dolly di
daerah kelurahan Putat Jya, Kecamatan Sawahan. Pria hidung belang
kalangan atas hingga bawah tak sulit ditemukan di kawasan Dolly. Tidak hanya
penduduk lokal, wisatawan asing pun tak jarang datang ke sini sekadar untuk
memuaskan birahi.
ASAL USUL ADANYA GANG DOLLY
Sejarah mencatat, kawasan Dolly rupanya dahulu
adalah tempat pemakaman warga Tionghoa pada zaman penjajahan Belanda. Namun
pemakaman ini disulap oleh seorang Noni Belanda bernama Dolly sebagai tempat
prostitusi khusus bagi para tentara negeri kincir angin itu. Bahkan keturunan
tante Dolly juga disebut-sebut masih ada hingga kini malah tidak meneruskan
bisnis esek-esek ini.
Tante
Dolly atau nama lengkapnya adalah Dolly Khavit merupakan seorang mantan pelacur berdarah
Jawa-Philipina pindah ke daerah tersebut sekitar
tahun 1976-an. Lantas kemudian Dolly Khavit mendirikan
rumah bordil untuk pertama kalinya.
Dalam beberapa kisah tutur masyarakat
Surabaya, awal berdirinya, tante Dolly hanya menyediakan beberapa gadis untuk
menjadi pekerja seks komersial. Melayani dan memuaskan syahwat para tentara
Belanda. Seiring berjalannya waktu, ternyata pelayan para gadis asuhan tante
Dolly tersebut mampu menarik perhatian para tentra untuk datang kembali.
Kisah lain
tentang Dolly juga pernah ditulis Tjahjo Purnomo dan Ashadi Siregar dalam buku
berjudul "Dolly: Membedah Dunia Pelacuran Surabaya, Kasus Kompleks
Pelacuran Dolly" yang diterbitkan Grafiti Pers, April 1982. Dalam buku itu
disebutkan dulu kawasan Dolly merupakan makam Tionghoa, meliputi wilayah
Girilaya, berbatasan dengan makam Islam di Putat Gede.
Baru sekitar
tahun 1966 daerah itu diserbu pendatang dengan menghancurkan bangunan-bangunan
makam. Makam China itu tertutup bagi jenazah baru,
dan kerangka lama harus dipindah oleh ahli warisnya. Ini mengundang orang
mendapatkan tanah bekas makam itu, baik dengan membongkar bangunan makam,
menggali kerangka jenazah, atau cukup meratakan saja.
Setahun
kemudian, 1967, muncul seorang pelacur wanita bernama Dolly Khavit di kawasan
makam Tionghua tersebut. Dia kemudian menikah dengan pelaut Belanda, pendiri
rumah pelacuran pertama di jalan yang sekarang bernama Kupang Gunung Timur I.
Wisma miliknya antara lain bernama T, Sul, NM, dan MR. Tiga di antara empat wisma
itu disewakan pada orang lain. Demikian asal muasal nama Dolly.
KIPRAH DAN AKTIVITAS GANG
DOLLY SEELUM DITUTUP
Dalam perkembanganhya, gang Dolly semakin
dikenal masyarakat luas. Tidak hanyaprajurit Belanda saja yang berkunjung,
namun warga pribumi dan saudagar yang berdagang di Surabaya juga ikut menikmati
layanan PSK. Sehingga kondisi tersebut berpengaruh kepada kuantitas pengunjung
dan jumlah PSK.
Dolly semakin
berkembang pada era tahun 1968 dan 1969. Wisma-wisma yang didirikan di sana
semakin banyak. Adapun persebarannya dimulai dari sisi jalan sebelah barat,
lalu meluas ke timur hingga mencapai sebagian Jalan Jarak.
Dolly juga menjelma menjadi kekuatan dan
samdaran hidup bagi penduduk di sana. Terdapat lebih dari 800 wisma esek-esek,
kafe dangdut dan panti pijat plus-plus yang berjejer rapi. Setidaknya setiap
malam sekitar 9000 lebih penjaja cinta, pelacur di bawahumur, germo, ahli pijat
menawarkan layanan kenikmatan pada pengunjug.
Tidak hanya itu, dolly juga menjadi tumpuan
hidup bagi ribuan pedagang kaki lima, tukang parkir. Dan calo prostitusi. Semua
saling berkait menjalin sebuah simbiosis mutualisme.
Memang selama ini Dolly menjadi salah satu
mesin ekonomi Surabaya, terutama bagi mereka yang bekerja di sektor informal.
Dari hitungan AFP, dalam sehari semalam, uang yang berputar di kawasan
ini mencapai Rp. 300 juta hingga Rp. 500 juta (US$ 25.000 sampai US$ 42.000).
Uang itu sebagian besar dinikmati oleh para pedagang kaki lima di sekitar
lokalisasi, para sopir taksi dan tukang ojek.
DRAMA PENUTUPAN GANG
DOLLY
Tahun 2014, lokalisasi Dolly resmi ditutup
oleh Walikota Surabaya, Ir. Tri Rismaharini, M.T setelah sekian puluh tahun
menjadi kawasan prostitusi yang dianggap merupakan sumber hal-hal negative dan
untuk menyelamatkan generasi penerus bangsa. Penutupan ini telah melalui proses
negosiasi yang sangat panjang dan menuai demonstrasi dari para preman,
mucikari, PSK, dan warga sekitar yang menggantungkan penghasilan dari kegiatan
prostitusi tersebut. Mereka melakukan demonstrasi karena dalih bahwa selama ini
dari lokalisasilah mereka mendapatkan penghasilan untuk biaya hidup. Jika
lokalisasi ditutup, maka itu sama saja dengan menghilangkan mata pencaharian
mereka.
Menurut
salah satu portal berita online, alasan lain mereka yaitu bisnis prostitusi itu
sudah terlanjur makmur. Tak tanggung-tanggung, puluhan juta rupiah bisa diraup
oleh setiap wisma per bulannya. Secara keseluruhan, omzet bisnis prostitusi
lokalisasi Dolly saja bisa mencapai miliaran rupiah. Setiap PSK bisa
mengantongi uang antara 13 juta sampai 15 juta rupiah per bulan. Sementara sang
mucikari bisa mendapatkan 60 juta rupiah per bulan.
Geliat
ekonomi dari gemerlapnya bisinis prostitusi seperti itu tidak hanya dirasakan
oleh PSK dan mucikari saja, namun juga warga yang bertempat tinggal disekitar
lokalisasi. Sebut saja
pedagang kaki lima (PKL), pengayuh becak, tukang cuci pakaian PSK, hingga warga
yang bekerja sebagai makelar PSK. Namun, sejak rencana penutupan lokalisasi
Dolly dan Jarak muncul disertai dengan intensifnya razia oleh petugas keamanan
menyebabkan jumlah pengunjung jauh berkurang.
Munculnya
pengangguran baru yang ada setelah terjadi penutupan tersebut melahirkan
permasalahan baru di Kota Surabaya. Karena kehidpan di Dolly tidak terbatas
pada aktivitas pelacuran saja. Ada perekonomian rakyat yang bertumpu pada
berjalannya kehidupan lokalisasi. Warga sekitar kompek pelacuran tersebut
menilai, pentupan ini bakal membuat hidup warga yang bergantung pada
perekonomian di kawasan itu menjadi sengsara
Penutupan
Dolly bukanlah keputusan yang dibuat dalam waktu cepat. Hingga menjelang
penutupan, PSK yang mengambildana kompensasi hanya sebanyak 397 orang dan
mucikari sebanyak 69 orang. Sedangkan yang mengembalikan uang kompensasi ada
lima PSK dan tiga mucikari. Ditengarai bahwa PSK yang menerima kompensasi
adalah mereka yang tidak bisa berbisnis pelacuran lagi karena alasan usia. Ini
menimbulkan kekhawatiran adanya pelacuran terselubung oleh para PSK yang masih
laku.
Pemerintah
Kota Surabaya telah memberikan pesangon kepada para PSK dan mucikari sebesar
Rp. 5 juta tetapi tidak disetujui oleh semua calon penerima, karena jika PSK
telah menerima pesangon tersebut maka akan di data kemudian jika dia kembali
bekerja sebagai PSK lalu tertangkap maka akan di rehabilitasi. Jadi penutupan
lokalisasi belum tentu berarti menyelesaikan masalah pelacuran secara
komprehensif, karena dapat berdampak pada pelacuran di tempat lain.
TOKOH-TOKOH PENUTUPAN
GANG DOLLY DAN METODE DKWAHNYA
1. Khoiron Syuaib Sang Kyai Prostitusi
Kyai khoirun sudah populer sebagai kiainya para
pelacur di Surabaya. nama lengkapnya KH. Khoirun Syuaib. Alumnus pondok
pesantren Tebuireng, Jombang dan lulusan IAIN Sunan Ampel Surabaya. semenjak
belia, ia telah “akrab” dengan kawasan merah. sebab, ayahnya adalh salah satu
pemilik warung dan guru ngaji di Dupak, Bangunsari, kawasan lokalisasi
legendaris yang berdiri sejak zaman penjajahan.
Selepas
mondok dan kuliah, ia harus melanjutkan tongkat estafet ayahnya. Saat itu,
pertengahan 1980-an, ada sekitar 3500 WTS. Pada 2011, hanya tinggal sepuluh
persennya saja. Saat ini malah hanya puluhan WTS yang tinggal di lokalisasi
ini, itupun sudah menjelang masa “pensiun”. Bahkan pada tahun 2012 silam,
Bangunsari, yang merupakan kawasan lokalisasi tertua di Surabaya, resmi ditutup
dan dinyatakan sebagai kampung bebas prostitusi. Upaya ini dimotori oleh
Pemprov Jatim, Pemkot Surabaya, MUI dan para dai yang berdakwah di lokalisasi.
Di
bawah kepemimpinan walikota Tri Rismaharini, upaya penutupan lokalisasi di
Surabaya semakin giat dilaksanakan. Adapun Kiai Khoiron mengawal proses
penutupan ini agar tidak menjadi gejolak di lingkungannya.
Metode yang digunkan dalam
mendakwahi masyarakat dolly yaitu dngan dakwa bil hikmah yaitu yaitu melakukan
pendekatan sedemikian rupa sehingga pihak objekdakwah mampu
melaksanakan dakwah atas kemauannya sendiri, tidak merasa ada
paksaan, tekanan maupun konflik.
Kyai Khoiron terlebih
dahulu mengambil hati para perangkat kelurahan di tempat itu, terutama ketua
RW. Pendekatan dakwah yang dilakukan Kyai Khoiron cukup persuasif. Misalnya,
ketika ia telah mendapati Ketua RW yang tengah asyik berpesta menikmati minuman
keras bersama PSK dan Mucikari, maka kendati pun ia mengetahui hal tersebut,
dirinya tidak langsung menegurnya. Setelah ketua RW sadar, Kyai Khoiron baru
megajaknya berdialog mengenai kebaikan dan masa depan kampungnya.
Merupakan dosen UIN Sunan Ampel Surabaya.
beliau juga tergabung dalam pengurus IDEAL (Ikatan Dai Eks Area Lokalisasi)
dalam penutupan gang dolly beliau berperan sebagai penyuluh kepada para psk
untuk segera bertaubat dan menjauhi dunia prostitusi. tentunya hal tersebut
dilakukan dengan caranya tersendiri shingga membuat banyak psk menjadi tertarik.
Sama seperti kyai khoirun syuaib metode dakwah yang digunakanya adalah dakwah
bil hikmah.
3. Gatot Subianto Si mantan preman prostitusi
Saat
Dolly berkibar sebagai pusat pelacuran, dialah salah satu penguasanya. Pria
bertubuh tinggi besar itu menjadi preman. Pelindung rumah-rumah bordil. Namun, kini dia sudah tobat. Dunia kelam itu
hanyalah kenangan. Menjadi bagian hidup. Contoh yang tak ingin dia ajarkan
kepada anak dan keturunannya. Gatot kini hidup dengan pekerjaan baru, sebagai
penjaga showroom di kawasan Pucang Anom itu. Menjajakan mobil-mobil bekas.
Mencari rezeki yang halal.
Tak
mudah bagi Gatot untuk meninggalkan kubangan dosa. Dia harus menempuh jalan
berliku. Meninggalkan gemerlap dunia malam. Kehidupan penuh foya-foya dan
kenikmatan semu. Kisah
pertobatan Gatot dimulai setelah bertemu ulama lokal. Kiai Khoiron Syu’aib.
Kala Dolly belum ditutup pemerintah Surabaya, pak kiai ini kerap berceramah di
sana. Mengajak para penghuni lokalisasi untuk bertobat.
Setelah ia bertonbat, tak
lantas ia meninggalkan sepenuhnya Dolly. Ia mulai sadar dan prihatinatas apa
yang dialami para PSK dan mucikari karena mendapatkan penghasilan dengan cara
yang tidak halal. Lalu ia bersama salah satu organisasi masyarakat bersikukuh
menutup area lokalisasi tersebut dan mengajak para penghuninya untuk bertaubat
Tak hanya berhasil menutup
pusat lokalisasi di Dolly dan Jarak. Ia uga berjasa dalam penutupan area
lokalisasi lain di jawa timur seperti yang berada di mojokerto. Karena
mayoritas psk yang tersebar di area jawa timur dan mendirikan pusat prostitusi
baru itu adalah mantan anak didiknya di dolly, sehingga ia bisa dengan mudah
melacak keberadaan mereka dan mengajak mereka untuk bertaubat. Dengan
perawakannya yang gagah dan kekar mudah saja bagi Gatot untuk menakut-nakuti
para PSK untuk segera bertaubat.
4.
Ngadimin Wahab, Dakwah dengan penyembuhan
Berbagai cara berdakwah
dilakukan Ulama di wilayah lokalisasi. Salah satunya dengan menggunakan metode
penyembuhan Islami yang dilakukan Ngadimin Wahab atau yang akrab disapa Abah
Petruk.
Abah petruk tidak hanya
melakukan dakwah dengan metode atau cara mengadakan pengajian, namun juga memberikan
penyembuhan bagi para Pekerja Seks Komersial (PSK) yang mengalami gangguan
kesehatan seksual hingga nonmedis.
Dai yang tergabung dalam
Ikatan Dai Area Lokalisasi (IDEAL) yang dibentuk Majelis Ulama Indonesia (MUI)
ini memastikan, dakwah penyembuhan yang dilakukannya itu sesuai dengan kaidah
Islam. Penyembuhan yang dilakukan Abah Petruk sebenarnya seperti ruqyah untuk
penyembuhan dan menanamkan kekuatan iman untuk meninggalkan hal-hal maksiat.
Abah Petruk
mengakui, setiap penyembuhan yang dilakukannya harus memenuhi syarat
penyembuhan, yaitu benar-benar berniat akan bertaubat dan meninggalkan perilaku
maksiat. Menurut dia, dalam penanganan mereka yang tidak ada niat bertaubat
tidak akan sembuh.
5. Sunarto Sholahudin, penyedia logistik dakwah
Merupakan pengusaha sekaligus owner PT. Berkah Aneka
Laut. dalam penutupan gang dolly, beliau berperan sebagai penyedia logistik
untuk keperluan penutupan. belau sebagai penyumbang dana terbesar. Beliau yang
awalnya dari keluarga dengan latar belakang ekonomi sulit mampu membuktikan
bahwa uang bukanlah segalanya untuk menggapai kesuksesan. Dengan kesuksesan
bisnis yang dimilikinya tak lantas ia gunakan untuk berfoya-foya namun ia tetap
mengingat Allah dengan menyumbangkan sebagian rezekinya untuk keperluan dakwah.
Metode
dakah yang diterapkan beliau dalam upaya penutupan gang dolly. Ia menggunakan
metode dakwah dengn menyediakan segala kebutuhan. Misalnya beliau berani dan
mampu membeli wisma-wisma dikawasan gang dolly yang dulunya digunakan ebagai
tempat maksiat dengan hara yang sangat tinggi. Kemudian beliau jadikan wisma
yang dibelinya tersebut sebagai tempat untuk mencari rezeki yang halal.
DOLLY SAAT INI
Bicara mengenai
gang Dolly, kira-kira bagaimana ya kabarnya saat ini. Ternyata gang dolly sudah
memiliki wajah baru yang berbeda dengan dulu. Menurut tri risma harini, wali kota
surabaya mengatakan bahwa dolly ukan ditutup tetapi diubah wajahnya. Para
pekerja lokalisasi kini dialihkan profesinya. ebagian ada yang jadi pedagang makanan
olahan yang menuai omset yang cukup fantastis. Ada pula yang bekerja di sektor
pekerjaan lain yang berbasis industri rumah tangga, semisal menekuni bisnis
penjualan telur asin, bawang goreng, dan lain-lain.
Nuansa kelam
dunia malam sudah tidak lagi dapat dirasakan di sana. Yang ada malah sebuah
kampung wisata yang bikin kerasan para pengunjungnya. Wisma Barbara di lokalisasi
Dolly misalnya, wisma itu sangat kental nuansa prostitusinya. Bangunan enam
lantai itu merupakan salah satu wisma paling terkenal di
wilayah Dolly. Sekarang, kondisinya sudah jauh berbeda. Sejak dibeli Pemkot
Surabaya, Wisma Barbara kini difungsikan sebagai markas usaha kecil menengah
(UKM) yang memproduksi sepatu. Selain itu, terdapat broadband learning center (BLC)
sebagai sarana pelatihan komputer bagi warga sekitar. Tempat tersebut juga
dijadikan lokasi display hasil kerajinan batik. Tak hanya itu, risma juga telah
meresmikan gang dolly tersebut sebagai wisata mural. Inilah beberapa gambar
yang menunjukkan tampilan dolly saat ini yang jauh dari kesuraman masa
kelamnya:
Ukm yang berkembang di masyarakat sekarang:
HASIL KULIAH LAPANGAN DAKWAH KONTENPORER DAN
ENTERPRENEURSHIP
masjid At-Taubah “gang dolly” 13 April 2019
Kutipan kata sambutan Prof. Dr. H. Muh Ali Aziz M.Ag
selaku dosen mata kuliah ilmu dakwah:
Dalam kata sambutannya beliau berbicara
mengenai proses dakwah yang dilakukan para pendakwah dalam mendakwahi penghuni gang
dolly. Beliau juga mengatakana bahkeberhasilan dakwah dilihat dari proses luar
biasa dibelanhgkanya.
Selanjutnya mengenai masa depan, beliau
menghimbau semua yang ada di lokasi tersbut untuk tidak menjadi dai semuanya,
harus ada yang menjadipengusaha dan lain-lain
Berbicara mengenai metode dakwah sebaiknya
tidak menggunakan ceramah atau khutbah yang
menyiksa mad’u yaitu ceramah yang pamjang, keluar tidak boleh,
didengarkan malah flu
kutipan kata sambutan Ustadz Ngadimin Wahab selaku takmir
masjid At-Taubah Dolly:
sampai hari ini upaya pencegahan pembukaan
kembalimasih terus dilakukan, contohnya saja baru-baru ini sempat ditangkap
mucikari baru di gang jarak.
Beliau juga menceritakan sejarah didirikannya
masjid At-Taubah di gang dolly. awal mulanya tahun 1987 hanya sebagai musholah
dengan nama Al-Huda karena banyak yang mengusulkan akhirnya musholah Al-Huda
dirubah menjadi Masjid dengan nama At-Taubah dimana sholat jumat pertama yang
dilaksanakan di masjid ini pada tanggal 17 Februari 1989
Kutipan materi oleh pemateri Bapak H. Sunarto Solahudin
Beliau menceritakan kisah inspiratif
perjalanan hidupnya dari kecil berasal dari keluarga yang tidak mampu, sampai
sekarang menjadi pengusaha yang sukses.
Beliau punya mempunyai 4 saudara, karena
orang tuanya mengalami kesulitan ekomnomi sejak SD beliau ikut kakaknya dan
bekerja sebagai penjual roti di sekolah dan keliling kampung. beliau juga
pernah berjuang mencari kerja hingga menginap di pasar turi demi sesuap nasi. karena
kegigihannya beliau akhirnya mendapat pekerjaan disebbuah restoran dengan hanya
mendapat gaji 15 ribu rupiah setiap bulanya
Dalam materinya belau mengatakan bahwa kuliah
jamham takut kalah sama yang puya uang. terapkan sikap JUJUR dalam semua
kegiatan. buah dari kejujuran itu sangat banyak apapun yang dilakukan tetap
dilandasi dengan kejujuran.selain Allah telah menentukan takdir untuk kita kita
juga harus tetap berusaha dan FOKUS
Sekarang beliau telah sukses menjadi seorang
pengusaha dan sebagai owner sekaligus direktur PT. Berkah Aneka laut dimana
keuntungannya bisa mencapai milyaran rupiah.berkat usaha, kerja keras serta
kejujuran dalam hidupnya.
Kutipan Materi Dr. H. Sunarto AS, MEI
Menyampaikan mengeai metode dakwah yang tepat
yaitu Dakwah secara Kelembagaan.
Dakwah harus dilakukan secara inegratif yang
artinya menyeluruh, persuafif pendekatan manusiawi serta solutip yang artinya
memberi solusi. jadi dakwah bukan hanya sekedar memberi nasehat.
Beliau juga menceritakan mengenai asal mula
terbentuknya IDEAL (Ikatan Dai Eks Area Lokalisasi. IDEAL awal mulanya dari Forkemas
yaitu forum komunikasi elemen masyarakat surabaya yang juga merupakan embrio
terbentuknya FKUB (Forum Kerukunan Umat Beragama
Beliau juga menceritakan asal mula pembinaan
para wts untuk bertobat. berawal dari 26 wts yang menjadi perwakilan dari 6
area lokalisai di surabaya. setelah itu mereka dibina dan diinapkan di trawas
dan secara berkala juga di bina di islamic centre surabaya. hingga akhirnya
mereka bertaubat dan membawa pengaruh positif bagi lingkungannya.
4 faktor yang berpengaruh di area lokalisasi:
yang pertama adalah PSK atau wts yang berada di lokalisasi tersebut
kedua adalah
mucikari. karena bagaimanapun, mucikari yang berjasa merekrut para wts dan
menjebah mereka masuk ke dunia haram dengan diiming-imingi hutang yang sangat
banyak hingga para wanita yang direkrutbya harus membayar hutang dengan menjadi
psk
ketiga tokoh
masyarakat. tokoh masyarakat disini seperti Ketua RT/RW, serta tokoh
berpengaruh di wilayah tersebut. karena atas sinergi yang baik suatu wilayah
bisa menjadi daearh lokalisasi atau berhasil menutup area lokalisai yang sudah
ada. Tokoh msyarakat lain yang berpengaruh adalah preman. preman di area
lokalisasi bertugas sebagai seseorang yang menawarkan dan memperomosikan para
psk kepada pelanggan
keempat orang
baik di lokalisasi. bagaimanapun di sebuah lokalisasi tetap membutuhkan orang
baik seperti para ualama yang bertugas untuk selalu mengingatkan para penghuni
lokalisasi
kutipan materi Bapak H. Gatot Subiantoro
Diawal ceramahnya belaiu dengan tegas dan
semangat memberikan sebuah kata motivasi bahwa “KEKAYAAN TIDAK ADA HABISNYA,
KEMISKINAN TIDAK ADA HABISNYA TAPI UMUR AADA HABISNYA”
Beliau juga menceritakan bagaimana ia bisa
bertaubat dari menjadi preman di lokalisasi dolly. pertama beliau didakwahi dan
terinspirasi oleh kiyai Khoiron Syuaib. berawal dari nasi berkatan syukuran
yang slalu kiai khoiron berikan kepad abeliau, beliau menjadi tertarik dan
mulai mengikuti kiai khoiron. kemudian oleh kiai khoiron beliau selalu
dilibatkan dngan kegiatan-kegiatan positif seperti menjadi panitia qurban,
panitia tujuh belasan dan lain-lain. hingga akhirnya beliau sedikit demi sedikit
menjauhi dunia kelam tersebut.
5 kesan dan
pelajaran berharga yang dapat penulis ambil dari studi lapangan ke dolly:
PERTAMA
penulis bisa menjadi tau wajah dan suasana gang dolly yang sebenarnya. menambah
informasi yang benar terkait gang dolly. Selain iu penulis juga bisa mengetahui
kisah megenai gang dolly secara lengkap mulai dari sejarahnya, bagaimana
kegiatan penduduknya sebelum ditutup, cerita penutupannya yang penuh konflik
sampai melihat wajah baru gang dolly eelah penutupan.
KEDUA penulis mendapat
pengalaman berharga bisa mengenal, berdiskusi dan mendengar langsug cerita hebat
dan kisah hidup dari para pemateri yang sangat menginspirasi. Terutama
pengalaman berdakahnya yang dapat penulis terapkan dalam kehidupan sehari-hari.
KETIGA penulis
bisa tahu bahwa metode dakah bukan hanya ceramah dari masjid ke masjid tetapi
bia bervariasi seperti yang dilakukan para pemateri.
KEEMPAT penulis mendapatkan inspirasi dari kisah hidup
Bapak sunarto sholahudin. Bahwa ketidak mampuan dalam hal ekonomi tidak
menghambat kesuksesan. Yang paling penting adalah kejujuran dan kefokusan.
Selain itu penulis juga belajar jika mempunyai rezeki yang berlebih, ada
baiknya kita gunakan dijalan Allah terutama jalan dakwah karena kebaikannya
akan kembali ke diri kita sendiri.
KELIMA penulis
mengetahui mengenai sinergi dakah bahwa dakah tidak bisa berhasil jika hanya
dilakukan oleh satu elemen dakah, namun juga dibutuhkan sinerg deng elemen atau
instrumen yang lain.
Demikian tulisan mengenai pengalaman penulis dalam mengikuti
kuliah lapangan di gang Dolly, semoga dapat menginspirasi dan semoga kita semua
termasuk kedalam orang-orng yang dicintai Allah SWT
-
M. TAUFIQ RAMADHAN -












Komentar
Posting Komentar