melawan hoax
MAHASISWA UIN DI TENGAH ERA HOAX
Oleh:
M. Taufiq Ramadhan
Indonesia merupakan negara dengan pengguna internet terbayak di Dunia. Hamper
semua penduduk yang berada pada usia produktif aktif menggunakan internet
setiap harinya. Segala informasi dapat tersebat dengan cepat. Termasuk berita
hoax yang tidak dapat di hindarkan. Berita hoax menjadi konsumsi public setiap
hari. Mereka yang tidak tahu apa-apa dan tergolong kaum awam, mudah saja
percaya dan tak heran mudah terprofokasi.
Di era digital ini, hoax semakin mengkhawatirkan karena menyebar dan
dapat menjangkau jutaan orang dengan cepat. Dengan banyaknya hoax, orang tidak
lagi bisa membedakan mana yang fakta dan mana yang fiktif. Berita hoax
mengandung unsur berlebihan atau bombastis. Hoax tersebar karena sang pembuat
hoax ingin menebarkan kebencian, menjelek-jelekkan suatu kaum, atau membuat
perpecahan. Namun orang yang membaca berita hoax tidak menyadari bahwa berita
yang ia baca itu hoax.
Sebagai mahasiswa Universitas
Islam Negeri (UIN) bijak bersosial media
merupakan hal sangat penting dan harus
dilakukan. Bagaimanapun sebagai calon panutan, kita harus meneliti kembali
setiap informasi yang kita dapatkan agar selalu memberikan taul dan yang baik
bagi mad’u. seperti yang dijelaskan dalam Q.S Al-hujurat ayat 6 yang artinya: “Hai
orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu
berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah
kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal
atas perbuatanmu itu.” (Q.S. al-Ĥujurāt/ 49: 6).
Berita Hoax merupakan salah satu hal
yang banyak sekali beredar di berbagai sosial media yang terkesan sulit untuk
dikendalikan. Hal tersebut akan sangat berbahaya jika banyak orang yang
memepercayainya dan ikut menyebarkan berita tersebut, karena akan menyebabkan
keonaran dalam kehidupan masyarakat. Termasuk mahasiswa UIN, sebagai calon
penuntun umat jika ikut menyebarkan
suatu kebohongan maka akan banyak yang ikut percaya dan ikut menyebarkan
kebohongan tersebut. Hal tersebut akan menjadi dosa jariyah yang terus mengalir
dan dosa tersebut akan terus mengalir selama masih ada yang ikut menyebarkan
berita tersebut. Jangankan menyebarkan beriuta hoax, ikut menyebarkan berita
burung saja merupakan hal yang tidak disukai Allah SWT. Dalam hadits dari
Al-Mughirah Bin Syu’bah Nabi bersabda yang artinya “sesungguhnya Allah membenci 3 hal untuk kalian: Menyebarkan berita
burung (katanya-katanya), menyia-nyiakan harta, dan banyak bertanya.”
Untuk itu, supaya tidak melakukan
hal yang dibenci Allah, sebagai sorang calon dai haruslah memiliki sikap
terhadap berita hoax. Menurut saya, berikut beberapa cara yang dapat dilakukan
dalam menyikapi berita hoax:
- Saat membaca, mendengar atau mengetahui suatu berita
tidak langsung saya percayai kebenarannya. Saya akan mencari tahu terlebih
dahulu sumber beritanya, jika berasal dari sumber yang terpercaya seperti alim
ulama, situs web terpercaya dan lain sebagainya maka ada kemungkinan berita tersebut bukan hoax, namun juga harus
selalu berhati-hati.
- Tidak ikut menyebarkan berita yang berbau negatif.
Jika kita menemui berita yanbg berbau negative atau bersifat memprovokasi,
entah itu benar-benar berita hoax atau tidak, hendaknya kita tidak ikut
menyebarkannya.
- Menyebarluaskan berita positif maupun tulisan kritis
terkait isu terkini setelah tahu keabsahan berita tersebut, yang benar-benar
bukan berita hoax.
- Jika mendapati ada berita hoax dan sudah di
klarifikasi kebenarannya, ada baiknya ikut membantu dalam menyebarkan
klarifikasi atas berita hoax tersebut agar tidak terjadi kesalah
pahaman lagi.
Komentar
Posting Komentar