PEMUDA
SEBAGAI TONGGAK KEBANGKITAN BANGSA DI MASA PANDEMI MENUJU TERCAPAINYA
SUISTANABLE DEVELOPMENT GOALS
Oleh:
M. Taufiq Ramadhan
Pandemi Covid-19 menjadi salah satu
periode yang berat bagi semua negara yang mengalaminya, termasuh Indonesia.
Pandemi tersebut tidak hanya memberikan dampak langsung dalam aspek kesehatan,
melainkan aspek kehidupan lainnya, seperti aspek ekonomi dan sosial. Kebijakan
pembatasan sosial dan karantina wilayah berpotensi membatasi masyarakat dalam
melaksanakan aktivitas ekonomi, sehingga sirkulasi barang dan jasa menjadi
terhambat. Kondisi tersebut terjadi dalam waktu yang cukup lama sehingga
menyebabkan penurunan pertumbuhan ekonomi di wilayah yang mengalami pandemi
COVID-19 (Chaplyuk et al., 2021; McKibbin & Fernando, 2020).
Seiring berjalannya waktu, berbagai
sektor yang terdampak pandemi dipaksa bertahan ditengah situasi yang tidak
menguntungkan. Berbagai cara dilakukan untuk dapat beradaptasi dan bangkit
menyesuaikan situasi yang ada. Apalagi, Indonesia baru saja melewati gelombang
ke-2 Covid-19 yang sampai saat ini dampaknya masih dirasakan yakni penerapan
Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Segenap pihal dituntut
untuk bersinergi demi kebangkitan negara pasca gelombang ke-2 Covid-19 yang
terjadi.
Pemuda menjadi salahsatu bagian
paling berpengaruh terhadap bangkitnya negara ini pada amsa pandemi. Istilah
pemuda jika merujuk pada World Health Organization (WHO)
dikenal sebagai “young people” yakni individu manusia yang berusia 10-24 sesuai
dengan kriteria dari International Youth Year tahun 1985. Sebelum terjadi wabah
Pandemi Covid-19, ternyata kaum muda dunia mayoritas dalam kondisi menganggur.
Disebutkan oleh International Labour Organization (ILO, 2020). Di Indonesia
sendiri berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dari hasil Susenas tahun
2020, perkiraan jumlah pemuda sebesar 64,50 juta jiwa atau hampir seperempat
dari total penduduk Indonesia yakni 23,86 persen (BPS, 2020). Jumlah yang tidak
sedikit tersebut menyebabkan pemuda mempunyai andil yang besar dalam
kebangkitan bangsa ini.
Sejalan dengan hal tersebut,
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah menetapkan pola pembangunan
berkelanjutan yang bisa dijadikan acuan dalam kebangkitan bangsa ini ditengah
pandemi. Hal tersebut tertuang dalam rencana aksi yang namai Suistanable
Development Goals (SDG). Sustainable Development Goals (SDGs) merupakan suatu rencana
aksi global yang disepakati oleh para pemimpin dunia, termasuk Indonesia, guna
mengakhiri kemiskinan, mengurangi kesenjangan dan melindungi lingkungan. SDGs
berisi 17 Tujuan dan 169 Target yang diharapkan dapat dicapai pada tahun 2030. Tujuan Pembangunan
Berkelanjutan/Sustainable Development Goals (TPB/SDGs) adalah Agenda 2030 yang
merupakan kesepakatan pembangunan berkelanjutan berdasarkan hak asasi manusia
dan kesetaraan. TPB/SDGs berprinsip Universal, Integrasi dan Inklusif, untuk
meyakinkan bahwa tidak ada satupun yang tertinggal atau disebut NO
One Left Behind.
Tujuan utama SGD menyejahterakan
masyarakat yang mencakup 17 poin antara
lain: (1) Tanpa Kemiskinan; (2) Tanpa Kelaparan; (3) Kehidupan Sehat dan
Sejahtera; (4) Pendidikan Berkualitas; (5) Kesetaraan Gender; (6) Air Bersih
dan Sanitasi Layak; (7) Energi Bersih dan Terjangkau; (8) Pekerjaan Layak dan
Pertumbuhan Ekonomi; (9) Industri, Inovasi dan Infrastruktur; (10) Berkurangnya
Kesenjangan; (11) Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan; (12) Konsumsi dan
Produksi yang Bertanggung Jawab; (13) Penanganan Perubahan Iklim; (14)
Ekosistem Lautan; (15) Ekosistem Daratan; (16) Perdamaian, Keadilan dan
Kelembagaan yang Tangguh; (17) Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. (Bappenas,
2021)
Sebelum dilanda wabah pandemi
Covid-19, pada hakikatnya Indonesia termasuk negara yang rentan akan
kemiskinan. Menurut laporan BPS pada Maret 2019, tercatat 9,41 persen angka
kemiskinan di Indonesia. Salah satu faktornya disebabkan oleh persoalan upah.
Hal ini sesuai dengan catatan Bappenas RI tahun 2019, bahwa pekerja pada sektor
informal adalalah 57,27%, lebih tinggi dibandingkan tenaga kerja pada sektor
formal sebesar 42,73%. Kondisi ini diperparah dengan dampak pandemi Covid-19
yang meluluhlantahkan hampir semua sektor ekonomi. Prediksi pemerintah, jumlah
pengangguran akibat dampak Covid-19 bisa mencapai 5.2 juta orang. Jika
diperhatikan, di luar kondisi wabah Covid-19, Indonesia kesulitan dalam
mengatasi problem kemiskinan, apalagi setelah “dihantam” wabah, sehingga jelas
pertumbuhan ekonomi akan mengalami kontraksi yang kuat (Roma & Rizqon,
2020)
Pemuda sebagai Agent Of Change dituntut
kiprahnya dalam menjadi tonggak kebangkitan bangsa. Strategi yang dapat
diterapkan pemuda dapat mengaju pada tujuan SDG yang telah dituangkan dalam 17
poin tujuan SDG. Berdasarkan pengamatan penulis, penerapan SDG di Indonesia
perlahan mulai dapat dirasakan. Apalagi pasca gelombang ke-2 covid-19 yang
menyerang. Kondisi perekonomian di Indonesia perlahan mulai membaik. Berbagai
sektor sudah mulai dapat beradaptasi dan bangkit kembali. Namun peran pemuda
masih minim.
Kreatifas, kesadaran serta tanggung
jawab menjadi kunci bagi generasi muda untuk melaksanakan keterlibatannya dalam
menyukseskan era new normal tersebut. Tentu terdapat berbagai strategi serta
upaya yang bisa diimplementasikan oleh generasi muda, baik bersifat kelompok
atau komunitas, maupun bersifat individu.. Penting dalam mengamalkan pengabdian
generasi muda tersebut, minimalnya sebagai kekuatan moral masyarakat serta
menjadi penyambung lidah rakyat. Terlepas dari besar atau kecilnya implikasi
atas peran atau keterlibatan generasi muda tersebut, penting mereka telah memiliki
semangat moralitas untuk berkorban demi kepentingan umum. Ada pun strategi
serta upaya dalam mengimplementasikan peran generasi muda secara langsung, baik
yang bersifat kelompok atau komunitas, maupun secara individu atau personal
(Agil, 2020)
Peran yang dilakukan secara
berkelompok atau komunitas, memang lebih berdampak besar, karena pada
hakikatnya bersifat untuk mengorganisir massa. Faktanya bangsa Indonesia, sejak
dulu, selalu berhasil mengatasi berbagai kendala yang terjadi, selain berkat
kekuatan Tuhan Yang Maha Esa, juga karena adanya semangat serta perjuangan yang
bersifat kolektif dan kolegial. (Mu’id dan Shofa, 2016)
Aksi awal yang dapat dilakukan
pemuda Indonesia adalah mengedukasi masyarakat tentang upaya pencegahan
penularan virus covid-19. Karena bagaimanapun virus ini akan tetap ada
dilingkungan sekitar dan sewaktu-waktu bisa kembali menjadi ganas. Hal tersebut
tetunya bukan harapan semua pihak karena juka hal tersebut terjadi, seluruh
aktifitas masyarakat akan kembali dibatasi.
Aksi kedua yaitu dengan
memberdayakan masyarakat melalui berbagai kegiatan. Program Kuliah Kerja Nyata
Tematik (KKN-T) Yang digagas oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan
Teknologi saat ini merupakan bukti nyata peran pemuda khususnya mahasiswa dalam
kebangkitan bangsa ditengah pandemi.
Aksi ketiga yaitu ikut andil dalam
pergerakan roda perekonomian melalui Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Pemuda bisa turun langsung dalam
kegiatan yakni membuat UMKM atau memberdayakan UMKM yang ada . Melalui UMKM masyarakat
diharapkan bisa mandiri serta membuka lapangan pekerjaan yang bisa
mensejahterakan rakyat dan membantu perekonomian negara.
Beberapa aksi tersebut sejalan
dengan tujuan SGD. Pemuda yang berada pada usia produktif diharapkan dapat
menajdi tonggak kebangkitan negara ini. Tidak perlu aksi besar, namun aksi yang
bisa dirasakan manfaatnya demi kesejahteraan masyarakat. Kiprahnya sangat
dinantikan dalam mengatasi berbagai permasalahan yang ada sesuai menuju
tercaainya Suistenable Development Goals di Indonesia tahun 2030.
DAFTAR
PUSTAKA
Azmi, Roma Doni, Rizqon. 2020. Kebangkitan
Nasional; Pemuda Melawan Pandemi.‘Adalah, Buletin Hukum dan Keadilan. ISSN:
2338 4638 Volume 4 Nomor 1
Nanggala, Agil. 2020. Peran Generasi
Muda Dalam Era New Normal. Widya Wacana: Jurnal Ilmiah. JWW XV (2)
McKibbin, W., & Fernando, R. 2020. The
Eco-nomic Impact of COVID-19. In R. Baldwin & B. W. di Mauro (Eds.),
Human Vaccines and Immunotherapeutics. CEPR Press.
Mu’id, A. & Shofa, A. 2016. Memaknai
Kembali Multikulturalisme Indonesia dalam Bingkai Pancasila. JPK: Jurnal
Pancasila dan Kewarganegaraan
Chaplyuk, V. Z., Alam, R. M. K., Abueva,
M. M.-S., Hossain, M. N., & Humssi, A. S. Al. (2021). COVID-19 and Its
Impacts on Global Eco-nomic Spheres. Modern Global Economic System: Evolutional
Development vs. Rev-oluationary Leap, 198, 824–833.
https://doi.org/10.1007/978-3-030-69415-9_94.
ILO. Global Employment Trend for Youth.
2020
Badan Pusat Statistik. Statistika pemuda
Indonesia. 2020
Badan Pembangunan Nasional. Diakses 13
Oktober 2021 pukul 12.30 pada : http://sdgs.bappenas.go.id/sekilas-sdgs/

Komentar
Posting Komentar